Negara Indonesia merupakan Negara dengan penduduk pemeluk
agama Islam terbanyak di dunia. Saat ini Indonesia menggunakan pancasila
sebagai dasar Negara yang berisi beberapa aspek, terlebih dalam sila pertama
berkaitan dengan Agama. System pemerintahan Indonesia yakni Presidensil, bentuk
Negara Kesatuan dan bentuk pemerintahannya republic. Berbeda dengan Arab Saudi,
arab Saudi menggunakan sistem Kerajaan atau Monarki. Hukum yang digunakan
adalah hukum Syariah Islam dengan berdasar pada pengamalan
ajaran Islam berdasarkan pemahaman salafussalih dan secara umum bermazhab
Hambali. Pemahaman ini sebagai pemahaman sahabat Nabi terhadap Al Qur'an dan
Hadits, sehingga sering menyebutnya sebagai pemahaman Salafi.
Negara
Indonesia sejatinya merupakan Negara sekular yakni Negara yang tidak menjadikan
Agama sebagai Dasar Negara. Negara secular tidak melarang agama untuk hidup,
tetapi mematikan Syariah Islam untuk diterapkan. Islam dalam Negara secular
dilaksanakan hanya sebatas ritual, tetapi tidak memberikan ruang bagi Islam
untuk diterapkan dalam tataran politik dan ideologis. Hal ini mustahil jikalau
Syariah Islam diterapkan secara kaffah (totalitas) yang kemudian menjadi
permasalahan dalam kalangan umat.
Adakah Sistem Politik dalam
Islam? Bagaimana Asas-asasnya?
Pertama: Hakimiyyah
Ilahiyyah. Hakimiyyah atau memberikan kuasa
pengadilan dan kedaulatan hukum tertinggi dalam sistem politik Islam hanyalah
hak mutlak Allah SWT. Tidak
mungkin hakNya menjadi milik sesiapa pun selain Allah dan tidak ada sesiapa pun
yang memiliki suatu bahagian daripadaNya.
Firman Allah:
"Dan
tidak ada sekutu bagi Nya dalam kekuasaan Nya." (Al Furqan: 2)
"Bagi
Nya segaIa puji di dunia dan di akhirat dan bagi Nya segata penentuan (hokum)
dan kepada Nya kamu dikembalikan." (A1 Qasas: 70)
"Menetapkan
hukum itu hanyalah hak Allah."
(A1 An'am: 57)
Kedua: Risalah Jalan
kehidupan para rasul diiktiraf oleh Islam sebagai sunan al huda atau jalan
jalan Hidayah. Jalan kehidupan mereka berlandaskan kepada segala Wahyu yang
diturunkan daripada Allah kepada Rasul untuk diri mereka dan juga untuk umat
mereka. Para Rasul sendiri yang menyampaikan hukum hukum Allah dan syari'at
syari'at Nya kepada manusia.
Para
Rasul menyampaikan, mentafsir dan menterjemahkan segala wahyu Allah dengan
ucapan dan perbuatan Mereka. Dalam Sistem Politik Islam, Allah telah
memerintahkan agar manusia menerima segala perintah dan larangan Rasulullah SAW.
Manusia diwajibkan tunduk kepada perintah Rasulullah SAW dan tidak mengambil
selain daripada Rasulullah SAW untuk menjadi Hakim dalam segala perselisihan
yang terjadi di antara mereka.
Firman Allah
yang mafhumnya:
"Apa
yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagi
kamu, maka tinggatkanlah."
(Al Hasyr: 7)
"Dan
Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk dita'ati dengan seizin
Allah." (An Nisa': 64)
"Dan
barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang orang mu'min, akan Kami biarkan mereka bergelimang
daiam kesesatan yang telah mereka datangi, dan Kami masukkan ia ke dalam
jahannam dan jahannam itu adalah seburuk buruk tempat kembali." (An Nisa: 115)
"Maka
demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An Nisa': 65)
Ketiga :
Khalifah. Khalifah berarti perwakilan. Dengan
pengertian ini, ia bermaksud bahawa kedudukan manusia di atas muka bumi ialah
sebagai wakil Allah SWT. Ini juga bermaksud bahwa di atas kekuasaan yang
telah diamanahkan kepadanya oleh Allah, maka manusia dikehendaki melaksanakan
undang undang Allah dalam batas batas yang ditetapkan. Di atas landasan
ini, maka manusia bukanlah penguasa atau pemilik, tetapi ia hanyalah khalifah
atau wakil Allah yang menjadi Pemilik yang sebenarnya.
Firman Allah
yang mafhumnya:
"Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menjadikan seorang khalifah di muka bumi... " (Al Baqarah: 30)
"Kemudian
Kami jadikan kamu khalifah khalifah di muka bumi sesudah mereka supaya Kami
memperhatikan bagaimana kamu berbuat." (Yunus: 14)
Bagaimana Prinsip Sistem Politik
Islam?
1.
Musyawarah
Asas musyawarah yang paling utama
adalah berkenaan dengan pemilihan Ketua Negara dan orang orang yang akan
menjawat tugas-tugas utama dalam pentadbiran ummah. Asas musyawarah yang kedua
pula adalah berkenaan dengan penentuan jalan dan cara perlaksanaan undang-undang
yang telah dimaktubkan di dalam Al qur'an dan As Sunnah. Asas Musyawarah yang
seterusnya ialah berkenaan dengan jalan menentukan perkara-perkara baru yang
timbul di kalangan ummah melalui proses ijtihad.
2.
Ke'adilan
Ke'adilan di
dalam bidang bidang social ekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa wujudnya
kuasa politik yang melindungi dan mengembangkannya.
3.
Kebebasan
Kebebasan yang
dipelihara oleh sistem politik Islam ialah kebebasan yang berteraskan kepada
ma'ruf dan kebajikan.
4. Persamaan
Persamaan di
sini terdiri persamaan dalam mendapat dan menuntut hak hak, persamaan dalam memikul
tanggungjawab dan persamaan berada di bawah kekuasaan undang undang.
5. Hak Menghisab Pihak Pemerintah
Hak rakyat sebagai
kewajiban setiap anggota di dalam masyarakat untuk menegakkan kebenaran dan
menghapuskan kemungkaran, mengawasi dan menghisab tindak tanduk dan keputusan
dari pihak pemerintah.
Prinsip ini
berdasarkan kepada firman Allah yang mafhumnya:
"Dan
apabila ia berpaling (daripada kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan
padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak
menyukai kebinasaan."
(Al-Baqarah:
205)
"..maka
berilah keputusan di antara manusia dengan 'adil dan janganlah kamu mengikut
hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu daripada jalan Allah. Sesungguhnya
orang-orang yang sesat daripada jalan Allah akan mendapat azab yang berat,
kerana mereka melupakan hari perhitungan."
(Sad: 26)
Tujuan
Politik Menurut Islam






0 komentar:
Posting Komentar