Random News

Rabu, 25 Februari 2015

INDONESIA DAN SYARIAH ISLAM




      Negara Indonesia merupakan Negara dengan penduduk pemeluk agama Islam terbanyak di dunia. Saat ini Indonesia menggunakan pancasila sebagai dasar Negara yang berisi beberapa aspek, terlebih dalam sila pertama berkaitan dengan Agama. System pemerintahan Indonesia yakni Presidensil, bentuk Negara Kesatuan dan bentuk pemerintahannya republic. Berbeda dengan Arab Saudi, arab Saudi menggunakan sistem Kerajaan atau Monarki. Hukum yang digunakan adalah hukum Syariah Islam dengan berdasar pada pengamalan ajaran Islam berdasarkan pemahaman salafussalih dan secara umum bermazhab Hambali. Pemahaman ini sebagai pemahaman sahabat Nabi terhadap Al Qur'an dan Hadits, sehingga sering menyebutnya sebagai pemahaman Salafi.
Negara Indonesia sejatinya merupakan Negara sekular yakni Negara yang tidak menjadikan Agama sebagai Dasar Negara. Negara secular tidak melarang agama untuk hidup, tetapi mematikan Syariah Islam untuk diterapkan. Islam dalam Negara secular dilaksanakan hanya sebatas ritual, tetapi tidak memberikan ruang bagi Islam untuk diterapkan dalam tataran politik dan ideologis. Hal ini mustahil jikalau Syariah Islam diterapkan secara kaffah (totalitas) yang kemudian menjadi permasalahan dalam kalangan umat.
Adakah Sistem Politik dalam Islam? Bagaimana Asas-asasnya?
            Pertama: Hakimiyyah Ilahiyyah. Hakimiyyah atau memberikan kuasa pengadilan dan kedaulatan hukum tertinggi dalam sistem politik Islam hanyalah hak mutlak Allah SWT. Tidak mungkin hakNya menjadi milik sesiapa pun selain Allah dan tidak ada sesiapa pun yang memiliki suatu bahagian daripadaNya.

Firman Allah: 

"Dan tidak ada sekutu bagi Nya dalam kekuasaan Nya." (Al Furqan: 2)

"Bagi Nya segaIa puji di dunia dan di akhirat dan bagi Nya segata penentuan (hokum) dan kepada Nya kamu dikembalikan."   (A1 Qasas: 70)

"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah."   (A1 An'am: 57)

Kedua: Risalah Jalan kehidupan para rasul diiktiraf oleh Islam sebagai sunan al huda atau jalan jalan Hidayah. Jalan kehidupan mereka berlandaskan kepada segala Wahyu yang diturunkan daripada Allah kepada Rasul untuk diri mereka dan juga untuk umat mereka. Para Rasul sendiri yang menyampaikan hukum hukum Allah dan syari'at syari'at Nya kepada manusia.
   
Para Rasul menyampaikan, mentafsir dan menterjemahkan segala wahyu Allah dengan ucapan dan perbuatan Mereka. Dalam Sistem Politik Islam, Allah telah memerintahkan agar manusia menerima segala perintah dan larangan Rasulullah SAW. Manusia diwajibkan tunduk kepada perintah Rasulullah SAW dan tidak mengambil selain daripada Rasulullah SAW untuk menjadi Hakim dalam segala perselisihan yang terjadi di antara mereka.

Firman Allah yang mafhumnya: 

"Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagi kamu, maka tinggatkanlah."   (Al Hasyr: 7)

"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah." (An Nisa': 64)

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mu'min, akan Kami biarkan mereka bergelimang daiam kesesatan yang telah mereka datangi, dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu adalah seburuk buruk tempat kembali." (An Nisa: 115)

"Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An Nisa': 65)

Ketiga : Khalifah. Khalifah berarti perwakilan. Dengan pengertian ini, ia bermaksud bahawa kedudukan manusia di atas muka bumi ialah sebagai wakil Allah SWT. Ini juga bermaksud bahwa di atas kekuasaan yang telah diamanahkan kepadanya oleh Allah, maka manusia dikehendaki melaksanakan undang undang Allah dalam batas batas yang ditetapkan. Di atas landasan ini, maka manusia bukanlah penguasa atau pemilik, tetapi ia hanyalah khalifah atau wakil Allah yang menjadi Pemilik yang sebenarnya.

Firman Allah yang mafhumnya: 

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi... " (Al Baqarah: 30)

"Kemudian Kami jadikan kamu khalifah khalifah di muka bumi sesudah mereka supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat." (Yunus: 14)

Bagaimana Prinsip Sistem Politik Islam?

1.    Musyawarah 

Asas musyawarah yang paling utama adalah berkenaan dengan pemilihan Ketua Negara dan orang orang yang akan menjawat tugas-tugas utama dalam pentadbiran ummah. Asas musyawarah yang kedua pula adalah berkenaan dengan penentuan jalan dan cara perlaksanaan undang-undang yang telah dimaktubkan di dalam Al qur'an dan As Sunnah. Asas Musyawarah yang seterusnya ialah berkenaan dengan jalan menentukan perkara-perkara baru yang timbul di kalangan ummah melalui proses ijtihad.



2.    Ke'adilan 

Ke'adilan di dalam bidang bidang social ekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa wujudnya kuasa politik yang melindungi dan mengembangkannya.
  
3.    Kebebasan
Kebebasan yang dipelihara oleh sistem politik Islam ialah kebebasan yang berteraskan kepada ma'ruf dan kebajikan.
  
4.    Persamaan  
Persamaan di sini terdiri persamaan dalam mendapat dan menuntut hak hak, persamaan dalam memikul tanggungjawab dan persamaan berada di bawah kekuasaan undang undang.

5.    Hak Menghisab Pihak Pemerintah
          Hak rakyat sebagai kewajiban setiap anggota di dalam masyarakat untuk menegakkan kebenaran dan menghapuskan kemungkaran, mengawasi dan menghisab tindak tanduk dan keputusan dari pihak pemerintah.

Prinsip ini berdasarkan kepada firman Allah yang mafhumnya: 

"Dan apabila ia berpaling (daripada kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan." 
(Al-Baqarah: 205)

"..maka berilah keputusan di antara manusia dengan 'adil dan janganlah kamu mengikut hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu daripada jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat daripada jalan Allah akan mendapat azab yang berat, kerana mereka melupakan hari perhitungan." 
(Sad: 26)



Tujuan Politik Menurut Islam

            Tujuan Sistem Politik Islam ialah untuk membangunkan sebuah sistem pemerintahan dan kenegaraan yang tegak di atas dasar untuk melaksanakan seluruh hukum Syari'at Islam. Dengan adanya pemerintahan yang mendukung syari'ah, maka akan tertegaklah al Din dan berterusanlah segala urusan manusia menurut tuntutan tuntutan al Din tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com