Mengapa Manusia tidak pernah puas?
Kepuasan seperti apa yang abadi?
Manusia dengan segala pernik-pernik di dunia ini mudah sekali untuk tergoda, bahkan hingga pada taraf ingin memiliki lebih dan lebih. Dalam benaknya terlintas bagaimana keinginan itu tetap menjadikan realita dan cita-cita.
Pada diri setiap manusia terdapat sifat tamak, rakus, yang selalu menginginkan lebih dan lebih. Tanpa disadari, setiap kali manusia memuaskan hasratnya, hal itu tidak akan bertahan lama.
Dalam islam, ketidakpuasan manusia sudah dijelaskan dalam hadits yang shahih.
Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:"Seandainya seseorang itu mempunyai satu lembah dari emas niscaya ia ingin mempunyai dua lembah, dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah (ia tidak akan merasa puas terhadap dunia ini sebelum mati) Dan Allah SWT akan senantiasa menerima taubat orang yang bertaubat“. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam surat takatsur dijelaskan, ciri has manusia adalah selalu mengumpulkan harta bermegah-megahan sehingga melalaikannya. Asyik dengan hal dunia saja dengan harta, pangkat, jabatan. Sehingga melalaikan Allah, hingga ketika mulutnya di sumpal dengan tanah (mati) maka baru menyadari bahwa dirinya telah dipanggil oleh Allah SWT dan baru merasa puas dan sadar.
Dari seluruh umat manusia di Dunia ini, hanya sedikit manusia yang selamat dari penyakit hati ini. Merekalah orang - orang yang selalu istiqomah, tawakal, merasa cukup, dan selalu mengingat kematian dan sadar bahwa dunia ini tidak lain hanya menipu serta tidak sebanding dengan kehidupan akhirat. Kepuasan yang hakiki adalah kepuasan yang datang dari Allah, mencintaiNya dan RasulNya. Dekatilah dirimu dengan Sang Pencipta Alam semesta ini, Dia selalu datang di 1/3 malam terakhir, sambutlah, niscaya engkau akan merasakan kepuasan yang hakiki.






0 komentar:
Posting Komentar